Bandung RayaSeputar Jabarku

Petani Kopi Bentuk Koperasi Untuk Hindari Tengkulak

Departemen Koperasi serta UKM mendesak petani kopi supaya membentuk koperasi supaya tidak terjebak dengan game tengkulak. Pembuatan koperasi pula membuat kesejahteraan petani lebih terjamin serta gampang dalam mengakses permodalan.

Perihal itu di informasikan Sekretaris Deputi Bidang Penciptaan serta Pemasaran, Departemen Koperasi serta UKM Daniel Asnur dalam aktivitas Temu Petani Kopi berjudul Rantai Distribusi buat Membentuk Ekosistem Kopi yang Berkepanjangan di Desa Loa, Kecamatan Paseh, Bandung, Jawa Barat, Senin( 21/ 10/ 2019).

Ikut muncul dalam peluang itu, Kepala Dinas Koperasi serta UKM Bandung Cakra Amiyana, Pimpinan Setiap hari Koperasi Mitra Malabar Dhanny Rhismayaddi, Founder Faba Coffee Rezky Ardha Supriadi serta Manager Pop Warung Ruki Wijaya.

” Negeri kita itu kopinya hebat, tetapi mengapa harga kopi terus naik tetapi kesejahteraan petani kopi kita tidak bertambah. Ini sebab sangat banyak mata rantai distribusi serta petani yang belum mandiri lewat koperasi. Petani pula banyak yang terjebak dengan game tengkulak,” ungkap Daniel.

Dengan berkoperasi, bagi Daniel, rantai distribusi dapat dipangkas sehingga harga kopi di tingkatan petani dapat bertambah. Koperasi pula dapat melaksanakan pengadaan pupuk untuk petani, dan melaksanakan pemasaran produk yang dihasilkan. Terlebih bila yang dibangun merupakan koperasi penciptaan, hendak membuat bahan- bahan kopi yang dihasilkan bermutu serta bernilai tambah besar.

Baca  Prabowo Jadi Menteri Bidang Pertahanan

” Akses permodalan pula terus menjadi gampang. Kita jadi dapat jalani pendampingan. Kita pula dapat ajak kerjasama stakeholder semacam Departemen Pertanian melatih petani menciptakan biji kopi bermutu,” ucapnya.

Lebih lanjut, Daniel mengaku terencana memperkenalkan para pelakon usaha yang pula berkecimpung dalam bidang kopi supaya bisa mengedukasi serta terjalinnya kerja sama langsung dengan tiap kelompok tani.

Kepala Dinas Koperasi serta UKM Kabupaten Bandung Cakra Amiyana berkata tubuh usaha berupa koperasi sangat pas untuk petani, sebab prinsip keadilan serta gotong royong. Dia pula berjanji buat memfasilitasi serta mempermudah kelompok- kelompok petani buat mendirikan koperasi.

” Petani wajib diberdayakan dalam wujud koperasi, jangan hingga petani kopi ini cape- cape tetapi yang banyak untung pihak lain, seluruh wajib adil antara harga di hulu serta hilir,” ucapnya.

Pimpinan Setiap hari Koperasi Mitra Malabar Dhanny Rhismayadi meningkatkan sampai saat ini ada 26 kelompok petani kopi terdiri dari 252 Kepala Keluarga di Desa Loa. Saat sebelum membentuk kelompok mereka berjalan sendiri- sendiri sehingga gampang dimanfaatkan oleh tengkulak.

Baca  Istri Wafat, Driver Ojol di Bandung Kerja Sambil Gendong Anak

” Dengan terdapatnya aktivitas ini, mereka terus menjadi siuman berartinya membentuk koperasi, apalgi dengan 4 khasiat yang tidak cuma didapat oleh petani namun pula untuk keluarganya. Petani pula meningkat mengerti kalau usaha kopi bila dibesarkan sungguh- sungguh sangat menguntungkan,” katanya.

Sedangkan itu, Founder Faba Coffee, Rezky Ardha Supriadi mengaku prihatin dengan keahlian petani mencerna hasil panen kopi. Terlebih, dirinya memandang langsung kulit kopi tidak diolah buat jadi nilai tambah. Demikian juga hasil panen, sepatutnya tidak dijual dalam wujud gelondongan, tetapi minimun diolah sampai berupa biji kopi( green bean) sehingga harga jual lebih besar.

” Kulit kopi dapat dijadikan teh, umumnya aku beli di produsen Rp40 ribu per kg, disini hanya buat pupuk. Sementara itu jika dijual uangnya dapat buat beli pupuk lebih bermutu,” ucapnya.

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close